BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN CEDERA
KEPALA
Cedera kepala adalah penyakit neurologis yang paling sering
terjadi diantara penyakit neurologis lainnya yang biasa disebabkan oleh
kecelakaan, meliputi: otak, tengkorak ataupun kulit kepala saja (Smeltzer,
2001: 2210).
Cedera kepala yaitu
adanya deformitas berupa penyimpangan bentuk atau penyimpangan garis pada
tulang tengkorak, percepatan dan perlambatan (accelerasi–descelarasi) yang
merupakan perubahan bentuk dipengaruhi oleh perubahan peningkatan pada
percepatan factor dan penurunan percepatan, serta rotasi yaitu pergerakan pada
kepala dirasakan juga oleh otak sebagai akibat perputaran pada tindakan
pencegahan.
2.2 KLASIFIKASI CEDERA KEPALA
Menurut Tarwoto Ns, S.Kep et. all. (2007 : 127), cedera
kepala dapat di klasifikasikan berdasarkan:
a) Berdasarkan kerusakan jaringan otak
(1) Komosio serebri (gegar otak): gangguan fungsi neurologic ringan tanpa tanpa
adanya kerusakan struktur otak, terjadi hilangnya kesadaran kurang dari 10 menit
atau tanpa disertai amnesia retrograde, mual, muntah, nyeri kepala.
(2) Kontusio serebri (memar): gangguan fungsi neurologic disertai kerusakan
jaringan otak tetapi kontinuitas otak masih utuh, hilangnya kesadaran lebih
dari 10 menit.
(3) Laserasio serebri: gangguan fungsi neurologic disertai kerusakan otak yang
berat dengan fraktur tengkorak terbuka. Massa otak terkelupas keluar dari
rongga intra cranial.
b) Berdasarkan berat ringan nya cedera kepala
(1) Cedera kepala ringan: jika GCS antara 13-15, dapat
terjadi kehilangan kesadaran kurang dari 30 menit, tidak terdapat fraktur
tengkorak, kontusio atau hematom.
(2) Cedera kepala sedang: jika nilai GCS antara 9-12, hilang
kesadaran antara 30 menit sampai dengan 24 jam, dapat disertai fraktur tengkorak,
disorientasi ringan.
(3) Cedera kepala berat: jika GCS berada antara 3-8, hilang
kesadaran lebih dari 24 jam, biasanya disertai kontusio, laserasi atau adanya
hematom, edema serebral.
2.3 ETIOLOGI
a. Trauma oleh
benda tajam
Menyebabkan cedera setempat dan
menimbulkan cedera lokal
b.
Trauma oleh benda tumpul menyebabkan ke substansi
otak energi
Kerusakan terjadi ketika
energi/kekuatan diteruskan ke substansi otak energi diserap lapisan pelindung
yaitu rambut kulit kepala dan tengkorak
2.4 PATOFISIOLOGI
Mekanisme cedera memegan peranan
yang sangat besar dalam menentukan berat ringannya konsekwensi patofisiologi
dari trauma kepala. Cedera percepata (aselerasi) terjadi jika benda yang sedang
bergerak membentur kepala yang diam seperti trauma akibat pukulan benda tumpul,
atau karena kena lemparan benda tumpul. Cedera periambatan (deselerasi) adalah
bila kepala membentur objek yang secara relatif tidak bergerak, seperti badan
mobil atau tanah. Kedua kekuatan ini mungkin terjadi secara bersamaan bila
terdapat gerakan kepala tiba – tiba tanpa kontak langsung seperti yang terjadi
bila posisi badan berubah secara kasar adan cepat. Kekuatan ini bisa
dikombinasi dengan pengubahan posisi rotasi pada kepala yang menyebabkan trauma
regangan dan robekan pada substansi alaba dan batangotak
Cedera primer yang terjadi pada waktu
benturan pada waktu benturan, mungkin karena memar pada permukaan otak.
Landasan substansi alba, cerdera robekan atau hemoragi sebagai akibat, cedera
sekunder dapat terjadi sebagai kemampuan autoregulasi dikurangi atau tidak ada
pada area cedera. Konsekwensinya meliputi : hiperemia (peningkatan volume
darah) pada area peningkatan permeabilitas kapiler serta vasodilatasi, semua
menimbulkan peningkatan isi intra kronial dan akhirnya peningkatan tekanan
intra kranial (TIK). Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan cedera otak
sekunder meliputi hipoksia dan hipotensi.
Bennarelli dan kawan – kawan
memperkenalkan cedera “fokal” dan “menyebar” sebagai katergori cedera kepala
berat pada upaya untuk menggunakan hasil dengan lebih khusus. Cedera fokal
diakibatkan dari kerusakan lokal yang meliputi kontusio serebral dan hematom
intra serebral serta kerusakan otak sekunder yang disebabkan oleh perluasan
massa lesi, pergeseran otak atau hernia. Cedera otak menyebar dikaitkan dengan
kerusakan yang menyebar secara luas dan terjadi dalam 4 bentuk yaitu :
cedera akson menyebar hemoragi kecil multiple pada seluruh otak. Jenis cedera
ini menyebabkan koma bukan karena kompresi pada batang otak tetapi karena
cedera menyebar pada hemisfer serebral, batang otak atau dua – duanya, situasi
yang terjadi pada hampir 50 % pasien yang mengalami cedera kepala berat bukan
karena peluru.
Akibat dari trauma otak ini akan bergantung:
1. Kekuatan benturan
Makin besar kekuatan makin parah
kerusakan, bila kekautan itu diteruskan pada substansi otak, maka akan terjadi
kerusakan sepanjang jalan yang dilewati karena jaringan lunak menjadi sasaran
kekuatan itu.
2. Akselerasi dan deselerasi
Akselerasi adalah benda bergerak
mengenai kepala yang diam.
Deselerasi adalah kepala membentur benda yang diam
Keduanya mungkin terjadi secara bersamaan bila terdapat gerakan kepala tiba –
tiba tanpa kontak langsung. Kekuatan ini menyebabkan isi dalam tengkorak yang
keras bergerak dan otak akan membentur permukaan dalam tengkorak pada otak yang
berlawanan.
3. Kup dan kontra kup
Cedera “cup” mengakibatkan kebanyakan kerusakan yang relatif dekat daerah yang
terbentur, sedangkan kerusakan cedera “kontra cup” berlawanan pada sisi desakan
benturan.
4. Lokasi benturan
Bagian otak yang paling besar kemungkinannya menderita cedera kepala terbesar
adalah bagian anterior dari lobus frantalis dan temporalis, bagian posterior
lobus aksipitalis dan bagian atas mesensefalon.
5. Rotasi
Pengubahan posisi rotasi pada kepala menyebabkan trauma regangan dan robekan
pada substansi alba dan batang otak.
6.
Fractur impresi
Fractur impresi sebabkan oleh suatu
keluaran yang mendorong fragmen tentang turun menekan otak yang lebih dalam
ketebalan tulang otak itu sendiri, akibat fraktur ini dapat menimbulkan kontak
cairan serebraspimal (CSS) dalam ruang sobarachnoid dalam sinus kemungkinan
cairan serebraspinoa (CSS) akan mengalir ke hidung, telinga, menyebabkan masuknya
bakteri yang mengkontaminasi cairan spinal
2.5 WOC
Cedera kepala
Ekstra
kranial tulang
Kranial intra
kranial
Terputusnya kontinuitas
Jaringan kulit, otot , dan vaskuler
2.6 KOMPLIKASI
• Meningitis
• Kejang
• SIADH (Sindroma Of In Apropriate ADH)
• Atelektasis
• Residual defisit neurologik
• Kontraktur
• Pneumonia
2.7 ASUHAN
KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
1. Indentitas
kilen
2. Riwayat kesehatan
A. Riwayat kesehatan sekarang
Apakah ada penurunan kesadaran, muntah, sakit kepala, wajah tidak simetris,
lemah, paralysis, perdarahan, fraktur
B. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah ada penyakit sistem persyarafan, riwayat trauma masa lalu, riwayat
penyakit darah, riwayat penyakit sistemik / pernafasan Cardiovaskuler dan
metabolik C. Riwayat Penyakit Keluarga
Adanya riwayat Penyakit menular
3. Pemeriksaan Fisik
A. Tingkat Kesadaran (GCS)
1. Respon Membuka Mata ………………………….4
Spontan 4
Terhadap Suara 3
Terhadap nyeri 2
Tidak ada respon 1
2. Respon Verbal ………………………………………..5
Terorientasi 5
Cakap bingung 4
Kata tak sesuai 3
Menggumam 2
Tak ada respon
1
3. Respon Motorik………………………………6
Mengikuti Perintah 6
Menunjuk terhadap rasangan 5
Menghindar stimulus 4
Fleksi abnormal 3
Ekstersi abnormal 2
Tak ada respon 1
B.
Tingkat Keparahan Cedera Kepala
1. Ringan (GCS 13 – 15)
2. Sedang (GCS 9 – 12)
3. Berat (GCS 3 – 8)
C. Aspek Neurologis
Kaji GCS
Disorientasi tempat / waktu
Refleksi Patologis & Fisiologis
Nervus Cranialis XII nervus (sensasi, pola bicara abnormal)
Status Motorik
Skala Kelemahan Otot
0 : Tidak ada kontrak
1 : Ada Kontraksi
2 : Bergerak tak bisa menahan gravitasi
3 : Bergerak mampu menahan gravitasi
4 : Normal
Perubahan pupil/penglihatan kabur, diplopia
5 – 6 cm = kerusakan batang otakü
Mengecil = Metabolis Abnormalü & disfungsi encephalo
Pin-point = Kerusakan pons, batang otakü
Perubahan tanda-tanda vital
Tanda-tanda peningkatan TIK
Penurunan kesadaranü
Gelisah letargiü
Sakit kepalaü
Muntah proyektifü
Pupil edemaü
Pelambatan nadiü
Pelebaran tekanan nadiü
Peningkatan tekanan darah sistolikü
D. Aspek Kardiovaskuler
• Perubahan TD (menurun/meningkat)
• Denyut nadi : Bradikardi, Tachi kardi, irama tidak teratur
• TD naik, TIK naik
E. Sistem Pernafasan
• Perubahan pola nafas
• Irama, frekuensi, kedalaman, bunyi nafas
F. Kebutusan Dasar
• Eliminasi
Perubahan pada BAB/BAK
o Inkontinensia, obstipasi
o Hematuri
• Nutrisi : mual, muntah, gangguan
mencerna/menelan makanan.
• Istirahat : kelemahan, mobilisasi, tidur
kurang
G. Pengkajian Psikologis
• Gangguan emosi/apatis, delirium
H. Pengkajian Sosial
• Hubungan dengan orang terdekat
• Kemampuan komunikasi
I. Pengkajian Spiritual
• Ketaatan terhadap agama
J. Pemeriksaan Diagnostik
• Hasil radiologi / CT Scan
Hematom serebral
Edem serebral
Perdarahan intrakranial
Fraktur tulang tengkorak
• AGD : PO2, PH, HCO3-
Untuk mengkaji keadekuatan ventilasi (memeprtahankan AGD dalam rentang normal
untuk menjamin aliran darah serebral adekuat.
• Elektrolit serum
Cedera kepala dapat dihubungkan dengan gangguan regulasi natrium, retensi Na
berakhir dapat beberapa hari, diikuti dengan diuresis Na, peningkatan letargi,
konfusi dan kejang akibat ketidakseimbangan elektrolit.
• Hematologi : leukosit, Hb, albumin,
globulin, protein serum
• CSS : warna, komposisi, tekanan
2.8 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. CT Scan untuk mengetahui adanya massa/sel perdarahan,
hematom, letak dan luasnya kerusakan/perdarahan. NRI dilakukan bila CT scan
belum memberi hasil yang cukup.
b. EEG untuk melihat adanya aktivitas gelombang listrik
diotak yang pacologis
c. Chest X Ray untuk mengetahui adanya perubahan pada paru
d. Foto tengkorak/scheedel : Untuk mengetahui adanya fraktur
pada tulang tengkorak yang akan meningkat TIK
e. Elektrolit darah/kimia darah : Untuk mengetahui
ketidakseimbangan yang berperan dalam meningkatkan / perubahan mental
2.9 PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Umum
Airway : – Pertahankan
kepatenan jalan nafasØ
– Atur posisi : posisi kepala flat dan tidak miring ke satu
sisi untuk mencegah penekanan/bendungan pada vena jugularis
– Cek adanya pengeluaran cairan dari hidung, telinga atau
mulut
Breathing : – Kaji pola
nafas, frekuensi, irama nafas, kedalamanØ
– Monitoring ventilasi : pemeriksaan analisa gas darah,
saturasi oksigen
Circulation : – Kaji
keadaan perfusi jaringan perifes (akral, nadi capillary rafill, sianosis pada
kuku, bibir)Ø
– Monitor tingkat kesadaran, GCS, periksa pupil, ukuran,
reflek terhadap cahaya
– Monitoring tanda – tanda vital
– Pemberian cairan dan elektrolit
– Monitoring intake dan output
b.
Khusus
• Konservatif : Dengan
pemberian manitol/gliserin, furosemid, pemberian steroid
• Operatif : Tindakan
kraniotomi, pemasangan drain, shuting prosedur
• Monitoring tekanan intrakranial
: yang ditandai dengan sakit kepala hebat, muntah
proyektil dan papil edema
• Pemberian diet/nutrisi
• Rehabilitasi, fisioterapi
Prioritas
Keperawatan
1. Memaksimalkan perfusi/fungsi serebral
2. Mencegah/meminimalkan komplikasi
3. Mengoptimalkan fungsi otak/mengembalikan pada keadaan
sebelum trauma
4. Meningkatkan koping individu dan keluarga
5. Memberikan informasi